Wednesday, June 10, 2015

Teori Pendekatan Psikologi Sastra dan Perwatakan Tokoh



(Mega Purnama)
 
A. Pendekatan Psikologi Sastra
Psikologi berasal dari perkataan Yunani psyche yang artinya jiwa, dan logos yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologis (menurut arti kata) psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macammacam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya (Abu Ahmadi, 1979:1). Bimo Walgito mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Ia merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tingkah laku serta aktifitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan (1997:9). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pengertian psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan dengan proses-proses mental baik normal maupun abnormal yang pengaruhnya pada perilaku atau ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa (1995:792).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia, baik mengenai gejala-gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya yang tercermin dalam tingkah laku serta aktivitas manusia atau individu sendiri.
Pendekatan psikologi sastra merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah manusia. Lewat tinjauan psikologi akan nampak bahwa fungsi dan peran sastra adalah untuk menghidangkan citra manusia yang seadil-adilnya dan sehidup-hidupnya atau paling sedikit untuk memancarkan bahwa karya sastra pada hakikatnya bertujuan untuk melukiskan kehidupan manusia (Andre Hardjana, 1985:66).
Psikologi sastra sebagai cabang ilmu sastra yang mendekati sastra dari sudut psikologi. Perhatiannya dapat diarahkan kepada pengarang, dan pembaca (psikologi komunikasi sastra) atau kepada teks itu sendiri (Dick Hartoko dan B. Rahmanto, 1986:126). Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian, yaitu
(1) Studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pembeda, (2) Studi proses kreatif,
(3) Studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra, dan
(4) Studi yang mempelajari dampak sastra pada pembaca atau psikologi pembaca (Wellek,
Rene dan Austin Warren, 1989:90).
B. Perwatakan Tokoh
Kehadiran tokoh dalam novel sangatlah penting. Hal ini dikarenakan, novel merupakan karya fiksi yang mempunyai sifat bercerita. Begitu pula dengan perwatakan, dalam suatu cerita mutlak diperlukan perwatakan guna memberikan gambaran tentang pribadi tokoh. Setiap tokoh yang ditampilkan oleh penulis, mengemban atau memiliki suatu watak tertentu atau gabungan dari beberapa watak yang dimiliki oleh manusia.
Menurut Burhan Nurgiantoro, perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita. Lebih rinci Atar Semi menjelaskan bahwa perwatakan dalam suatu fiksi mengacu kepada perbauran dari keinginan, minat, emosi, dan moral yang membentuk individu yang tampil dalam cerita. Oleh karena itu, perwatakan tokoh dapat dilihat dari gambaran mengenai tindak-tanduk, ucapan, pikiran, dan sejalan tidaknya apa yang dikatakan dengan apa yang diperbuatnya.
Untuk melukiskan perwatakan tokoh dalam novel, ada beberapa cara yang dilakukan penulis. Menurut Jakob Sumarjo dan Saini K.M, ada beberapa cara yang dilakukan penulis dalam menggambarkan perwatakan tokoh, yaitu:
1. Melalui apa yang diperbuatnya, tindakannya, terutama sekali bagaimana si tokoh
bersikap dalam keadaan kritis
2. Melalui ucapan-ucapannya
3. Melalui penggambaran fisik tokoh
4. Melalui pemikiran-pemikirannya
5. Melalui penerangan langsung.
Tak jauh berbeda dengan apa yang telah diungkapkan oleh Jakob Sumarjo dan Saini K.M, Atar Semi mengelompokkan penggambaran perwatakan menjadi dua, yaitu:
1. Secara analitik, yaitu pengarang langsung memaparkan tentang watak atau karakter tokoh, pengarang menyebutkan bahwa tokoh tersebut keras hati, keras kepala, penyayang , dan sebagainya.
2. Secara dramatik, yaitu penggambaran perwatakan yang tidak langsung, tetapi hal ini disampaikan melalui, a) pilihan nama, b) penggambaran fisik tokoh( cara berpakaian, postur tubuh, tingkah laku terhadap tokoh lain, c) dialog

Nilai ideologi dalam karya sastra Novel Canting


Nilai ideologi dalam karya sastra Novel Canting
(Mega Purnama)

 
Dalam konteks kesusastraan Indonesia, ideologi dalam sastra sepatutnya memiliki makna bagi kepentingan sastra Indonesia dengan tujuan akhir menempatkan manusia Indonesia sebagai obyek sekaligus subyek sastra dalam rangka memaknai zaman. Ideologi sendiri memiliki arti yaitu, seperangkat nilai atau pemikiran yang dijadikan oleh seseorang atau sekelompok orang menjadi suatu pegangan hidup. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa pendekatan mimetik merupakan suatu pendekatan yang didasarkan pada peniruan, pencerminan, atau refleksi terhadap dunia luar, alam, kehidupan, dsb. Oleh karena itu, untuk melihat nilai ideologi yang terkadung dalam Novel Canting, digunakanlah pendekatan mimetik.
Pencerminan nilai ideologi yang ditemukan dalam novel canting yaitu, terlihat dari amanat yang hendak disampaikan penulis terhadap pembacanya yaitu mengenai semangat perubahan zaman. Disampaikan bahwa janganlah mencoba melawan semangat perubahan zaman karena hal ini hanya akan mengakibatkan kekalahan, cara terbaik untuk menghadapi perubahan zaman itu dengan melebur diri tanpa harus kehilangan jati diri. Dari amanat ini tercerminkan nilai ideologi yang saat ini dalam kehidupan bermasyarakat juga sedang menjadi sorotan. Hal ini mencerinkan kondisi bangsa Indonesia yang memiliki begitu banyak suku dan budaya. Seiring perkembangan kemajuan teknologi, keberadaan budaya bangsa Indonesia pun perlu dikhawatirkan. Banyak orang yang beralih mengikuti kemajuan teknologi dibandingkan mengikuti budaya / adat yang dianggap lebih rumit dan terbilang kuno, sebagai contoh yaitu batik dalam budaya Jawa.
 Sejak tahun 2009, tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Pemerintah menetapkan tanggal tersebut bukan tanpa alasan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 November 2009 menerbitkan Keputusan Presiden No 33 Tahun 2009 tentang Hari Batik nasional. Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO) Badan PBB yang mengurusi persoalan pendidikan dan kebudayaan menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) milik Indonesia. Hal ini diharakan dapat menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia. Penetapan hari Batik Nasional juga dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia. Sejak saat itu konsumsi masyarakat terhadap pakaian batik menjadi meningkat, hal ini tentu menjadi daya tarik bagi para produsen pembuat batik. Sayangnya, diantara para produsen batik ini banyak yang lebih mengutamakan nilai ekonomi dibanding nilai keindahan batik. Hingga munculah teknik pembuatan batik yang disebut batik printing. Dengan teknik ini, para pembatik tak lagi harus berlama-lama dan bersusah payah membuat batik (seperti halnya saat menggunakan canting), karena dengan teknik printing, corak batik yang diinginkan langsung dapat di cetak/print menggunakan bantuan mesin, dan mendapatkan jumlah yang banyak dalam sekali produksi. Terlihat bahwa persaingan ini membuat para pembatik canting menjadi kebingungan, karena para konsumen lebih banyak yang memilih menggunakan batik print karena dari segi harga yang terbilang murah, berbeda dengan batik canting. Dari fenomena inilah Arswendo melakukan refleksi dalam novel, melalui novel, penulis berusaha memberikan penerangan untuk para pembatik canting, hal ini terlihat dalam kutipan berikut,
“Canting tak perlu mengangkat bendera tinggi-tinggi, karena canting sekarang ini bukan cap dulu yang dianggap budi luhung oleh sebagian besar pemakainya. Maka tak ada pilihan lagi bagi Ni Jika ingin tetap hidup dan menghidupkan kembali usaha ibunya, ia harus melebur diri; canting harus melebur dirinya; cara bertahan dan bisa melejit, bukan dengan menjerit, bukan dengan memuji keagungan masa lampau, bukan dengan memusuhi. Tapi dengan jalan melebur dir. Ketika ia melepaskan cap canting, ketika itulah usaha batiknya jalan.

Penyelesaian yang dilakukan penulis dalam novel menunjukkan bahwa pada kenyataannya, suatu budaya tidak dapat bertahan di era teknologi apabila tetap pada kekhasan budaya tersebut. Apalagi ditambah dengan para generasi muda yang masih awam akan bekal pengetahuan budaya, justru lebih paham akan kemajuan teknologi. Karena, yang nantinya melanjutkan budaya tersebut adalah para generasi muda.

1.      Menurut Gerhard Ebeling yang ditulis Palmer, bahwa kata hermeneutic sendiri memiliki tiga bentuk penggunaan, yaitu: 1) menyampaikan; to say; to express; to assert, 2) menjelaskan; to explain, 3) menerjemahkan; to translate. Sedangkan ketiga aspek dari bentuk penggunaan kata hermeneuein sebenarnya dapatlah diwakilkan di dalam satu kata kerja bahasa Inggris: to interpret (interpretasi). Hermenetik menurut pandangan kritik sastra ialah Sebuah metode untuk memahami teks yang diuraikan dan diperuntukkan bagi penelaahan teks karya sastra. Hermenetik cocok untuk membaca karya sastra karena dalam kajian sastra, apa pun bentuknya, berkaitan dengan suatu aktivitas yakni interpretasi (penafsiran). Kegiatan apresiasi sastra dan kritik sastra, pada awal dan akhirnya, bersangkutpaut dengan karya sastra yang harus diinterpretasi dan dimaknai. Semua kegiatan kajian sastra, terutama dalam prosesnya, pasti melibatkan peranan konsep hermeneutik. Oleh karena itu, hermeneutik menjadi hal dan prinsip yang tidak mungkin diabaikan. Atas dasar itulah hermeneutik perlu diperbincangkan secara mendalam guna memperoleh pemahaman yang memadai. Dalam hubungan ini, perlu disadari bahwa interpretasi dan pemaknaan tidak diarahkan pada suatu proses yang hanya menyentuh permukaan karya sastra, tetapi yang mampu “menembus kedalaman makna” yang terkandung di dalamnya. Untuk itu, si penafsir mesti memiliki wawasan bahasa, sastra, dan budaya yang cukup luas dan mendalam. Berhasil-tidaknya si penafsir untuk mencapai taraf interpretasi yang optimal, sangat bergantung pada kecermatan dan ketajaman interpreter itu sendiri. Selain itu, tentu saja dibutuhkan metode pemahaman yang memadai; metode pemahaman yang mendukung merupakan satu syarat yang harus dimiliki interpreter. Dari beberapa alternatif yang ditawarkan para ahli sastra dalam memahami karya sastra, metode pemahaman hermeneutika dapat dipandang sebagai metode yang paling memadai.

Contoh RPP Kurtilas Bahasa Indonesia Kelas 7



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)

Satuan Pendidikan               : SMP Negeri 4 Bekasi
Mata Pelajaran                    : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester                    : VII/1
Materi Pokok                      : Teks Laporan Hasil Observasi
Tema                                   : Cinta Lingkungan Hidup
Subtema                              : Cinta Lingkungan
Alokasi Waktu                     : 4 x 40 menit ( 2 x Tatap Muka  )

A.    Kompetensi Inti
1.         Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2.         Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya
3.         Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4.         Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori

B.     Kompetensi Dasar
3.3.  Mengklasifikasi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek baik melalui lisan maupun tulisan
4.3. Menelaah dan merevisi teks hasil observasi, tanggapan deskriptif, eksposisi, eksplanasi, dan cerita pendek sesuai dengan struktur dan kaidah teks baik secara lisan maupun tulisan
2.5. Memiliki perilaku jujur, tanggung jawab, dan santun dalam menanggapi secara pribadi hal-hal atau kejadian berdasarkan hasil observasi.
1.3 Menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis
C.    Indikator
1.      Mengklasifikasi teks hasil observasi:
  1. Menjelaskan kekurangan teks teks hasil observasi dari aspek isi dan bahasanya
  2. Menelaah dan merevisi teks (identifikasi struktur dan kaidah kebahasaan)


D.    Tujuan Pembelajaran
1.      Setelah melakukan pengamatan, kerja kelompok, tanya jawab, dan berlatih diharapkan peserta didik dapat mengklasifikasikan teks hasil observasi.
2.      Setelah melakukan pengamatan, kerja kelompok, tanya jawab, dan berlatih diharapkan peserta didik dapat menjelaskan kekurangan teks hasil observasi dari aspek isi dan bahasa.
3.      Setelah melakukan pengamatan, kerja kelompok, tanya jawab, dan berlatih diharapkan peserta didik dapat menelaah dan merevisi teks (struktur dan kaidah kebahasaan).
4.      Setelah melakukan pengamatan, kerja kelompok, tanya jawab, dan berlatih diharapkan peserta didik dapat memiliki perilaku percaya diri peduli dan santun dalam merespons secara pribadi peristiwa jangka pendek.
5.      Setelah melakukan pengamatan, kerja kelompok, tanya jawab, dan berlatih diharapkan peserta didik dapat menghargai dan mensyukuri keberadaan bahasa Indonesia sebagai anugerah Tuhan yang Maha Esa sebagai sarana menyajikan informasi lisan dan tulis.

E.     Materi Ajar
1.      Klasifikasi teks hasil observasi:
·         teks laporan (report text)
·         teks berita
2.      Cerita Rakyat
3.      Kekurangan teks teks hasil observasi dari aspek isi dan bahasanya
4.      Penelaahan dan revisi teks (struktur dan kaidah kebahasaan)

F.     Pendekatan/Strategi/Metode
Pendekatan     : saintifik (scientific)
Metode            : diskusi, menemukan, tanya jawab, penugasan, dan presentasi

G.    Kegiatan Pembelajaran
Pertemuan ke-1
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.      Peserta didik merespons salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.
2.      Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3.      Peserta didik menerima informasi kompetensi, materi, tujuan, manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.
4.      Peserta didik mengumpulkan tugas kumpulan artikel/tulisan atau berita dari berbagai media
10 menit
Inti
Mengamati :
·         Peserta didik membaca salah satu teks berita dengan cermat
Menanya :
·         Peserta didik dengan atau tanpa bantuan guru  mengungkapkan hal yang berkaitan dengan klasifikasi/kategori teks hasil observasi dan teks berita
·         Peserta didik dengan atau bantuan guru mengungkapkan hal yang berkaitan dengan kekurangan teks hasil observasi
Mengeksplorasi :
·         Peserta didik menjawab pertanyaan tentang isi teks
·         Peserta didik secara kelompok mendiskusikan manakah dari kedua teks tersebut yang termasuk dalam kategori teks laporan dan teks berita dari segi struktur teks
·         Peserta didik secara kelompok mendiskusikan kekurangan teks hasil laporan observasi dari segi struktur dan kaidah kebahasaan.
·         Peserta didik menelaah teks hasil observasi yang telah ditulis kelompok lain dari aspek judul, klasifikasi/definisi umum, deskripsi khusus, dan kaidah kebahasaan dengan penuh tanggung jawab
·         Peserta didik merevisi teks hasil observasi kelompok sesuai dengan hasil penelaahaan dengan penuh tanggung jawab
·         Peserta didik menelaah teks hasil observasi yang telah ditulis teman dari aspek judul, klasifikasi/definisi umum, deskripsi khusus, dan kaidah kebahasaan
·         Peserta didik merevisi teks hasil observasi teman sesuai dengan hasil penelaahaan dengan penuh tanggung jawab
60 menit
Penutup
·         Peserta didik dengan bimbingan guru menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan hari ini.
·         Guru memberi kesempatan kepada beberapa peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.
·         Guru melakukan penilaian.
·         Guru menyampaikan pesan moral untuk senantiasa menghormati pendapat dan hasil karya orang lain.
·         Salam dan doa penutup.
10 menit


Pertemuan ke- 2
Kegiatan
Deskripsi Kegiatan
Alokasi Waktu
Pendahuluan
1.      Peserta didik merespons salam dan pertanyaan dari guru berhubungan dengan kondisi dan pembelajaran sebelumnya.
2.      Peserta didik menerima informasi tentang keterkaitan  pembelajaran sebelumnya dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
3.      Peserta didik menerima informasi kompetensi, materi, tujuan,  manfaat, dan langkah pembelajaran yang akan  dilaksanakan.

10 menit
Inti
Mengasosiasikan :
·         Peserta didik membandingkan hasil telaah dengan kelompok lain untuk memperkuat konsep tentang teks laporan hasil observasi
Mengomunikasikan
·         Peserta didik menjelaskan hasil penelaahan terhadap teks yang dibuat teman/kelompok untuk perbaikan dengan percaya diri dan bahasa yang santun
·         Peserta didik menjelaskan hasil revisi untuk kelompok atau teman lain  dengan percaya diri dan bahasa yang santun
·         Peserta didik menanggapi presentasi teman/kelompok lain secara santun dan lugas
60 menit
Penutup
·         Peserta didik dengan bimbingan guru menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan hari ini.
·         Guru memberi kesempatan kepada beberapa peserta didik untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti.
·         Guru melakukan penilaian.
·         Guru menyampaikan pesan moral untuk senantiasa menghormati pendapat dan hasil karya orang lain.
·         Salam dan doa penutup.
10 menit
H.    Penilaian
1.      Sikap spiritual
a.       Teknik Penilaian          : Observasi
b.      Bentuk Instrumen       : Lembar Observasi
c.       Kisi-kisi
No
Indikator
Butir Instrumen
1
Terbiasa menggunakan bahasa Indonesia di Kelas dan di luar kelas dengan baik dan benar

Aspek lembar observasi
-          Sikap menghargai
-          Sikap bersyukur
2.      Sikap  Sosial
a.       Teknik Penilaian    : Observasi
b.      Bentuk Instrumen : Lembar Observasi
c.       Kisi-kisi
No
Indikator
Butir Instrumen
1
Selalu
Percaya diri
2

-          peduli
3
Senantiasa menggunakan kata-kata yang tidak menyinggung perasaan orang lain pada kegiatan menanggapi perbedan pendapat tentang teks hasil observasi dan teks berita
-          santun


3.      Pengetahuan
a.         Teknik Penilaian   : Tes tertulis
b.        Bentuk Instrumen            : uraian
c.         Kisi-kisi

No
Indikator
Butir Instrumen
1
Disajikan teks hasil  observasi dan teks berita, peserta didik dapat :
-membedakan dari struktur teks
- menentukan perbedaan struktur isi teks hasil observasi dengan  teks deskriptif
-. Menentukan ciri bahasa teks hasil observasi dengan  teks deskriptif
- Berdasarkan teks hasil observasi danteks berita, tentukan  perbedaan dari struktur teks!
- Jelaskan cirri-ciri bahasa yang digunakan dalam teks observasi dan deskripsi yang kalian baca disertai bukti yang mendukung jawabanmu?


d.        Soal Uraian
1)        Berdasarkan teks hasil observasi yang dilakukan, jelaskan strutur teks   laporan observasi.
2)        Berdasarkan teks hasil observasi yang dilakukan, revisilah teks hasil laporan observasi sehingga menjadi teks laporan yang sesuai dengan kaidah kebahasaan.   

4.      Keterampilan
a.             Teknik Penilaian     : Penugasan/proyek
b.             Bentuk Instrumen   : Rubrik Penilaian
c.             Soal

1.             Tugas
a)      Tugas individu, menemukan perbedaan teks hasil observasi dan teks berita
dilihadari struktur teks.
b)      Tugas kelompok, menentukan  perbedaan struktur isi dan ciri bahasa teks hasil observasi dengan teks deskripsi.
2.             Portofolio
a) Menilai hasil pemahaman peserta didik tentang struktur  teks laporan hasil observasi yang dibandingkan dengan teks lain (teks berita)  dalam bentuk laporan hasil  kerja kelompok dan atau individu
b)    Menilai perkembangan menulis Peserta didik melalui tugas merevisi  teks laporan observasi
c)    Menilai hasil pemahaman dan kemampuan  peserta didik dalam penerapan kaidah kebahasaan (pilihan kata, EYD) melalui hasil kerja kelompok dan atau individu pada berbagai tugas menulis

I.       Sumber dan Media Pembelajaran
Sumber
1.      Buku Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan kelas VII, Kemendikbud
2.      Kamus Besar Bahasa Indonesia
3.      Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia
4.      Buku Ejaan Yang Disempurnakan
5.      Internet  http:
Media
1.      Teks laporan hasil observasi cinta lingkungan
2.      Teks berita



1.    Contoh Instrumen Penilaian
Lembar  Observasi Sikap Spiritual
No.
Nama Siswa
Religius
Sikap menghargai
Sikap Bersyukur

1.

4
3
2
1
4
3
2
1




2.













3.













….














Rubrik penilaian sikap Spiritual

No

Aspek

Deskriptor

4
3
2
1
1
Sikap menghargai
Tidak  mencemooh kesalahan teman dalam penggunaan bahasa Indonesia di kelas






Memberi saran kepada teman ketika tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kelas




2
Sikap bersyukur
Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam kelas  dan lingkungan sekolah






Menggunakan bahasa Indonesia di lungkungan sekolah secara wajar




Keterangan :
1.      Sangat Baik
2.      Baik
3.      Cukup
4.      Kurang
                             Perolehan skor
            Nilai  =      ___________    X skor ideal = NA
                             Skor maksimal

2.    Contoh Instrumen Penilaian
Lembar  Observasi Sikap Sosial

No.
Nama Siswa
Sikap Sosial
Percaya diri
Peduli
santun
1.

4
3
2
1
4
3
2
1
4
3
2
1
2.













3.













….














Rubrik penilaian sikap Sosial

No

Aspek

Deskriptor
Skala
4
3
2
1
1
Percaya diri
·      Berpendapat atau melakukan kegiatan tanpa ragu-ragu.
·      Mampu membuat keputusan dengan cepat
·      Tidak mudah putus asa
·      Tidak canggung dalam bertindak
·      Berani presentasi di depan kelas
·      Berani berpendapat, bertanya, atau menjawab pertanyaan




2
Peduli
·      Tidak mengganggu teman yang berbeda pendapat
·      Menerima kesepakatan meskipun berbeda dengan pendapatnya
·      Dapat menerima kekurangan orang lain
·      Dapat mememaafkan kesalahan orang lain




3
Santun
·      Menghormati orang yang lebih tua.
·      Tidak berkata-kata kotor, kasar, dan takabur.
·      Tidak meludah di sembarang tempat.
·      Tidak menyela pembicaraan pada waktu yang tidak tepat
·      Mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan orang lain
·      Bersikap 3S (salam, senyum, sapa)
·      Meminta ijin ketika akan memasuki ruangan orang lain atau menggunakan barang milik orang lain
·      Memperlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan





Keterangan :
1.      Sangat Baik
2.      Baik
3.      Cukup
4.      Kurang

                             Perolehan skor
            Nilai  =      ___________    X skor ideal = NA
                               Skor maksimal


Bekasi,      September 2014
Mengetahui,
Kepala  SMP Negeri 4



Drs.Usman Efendi, M.M. NIP.195705161983081002                                                                                                 
                 
Guru Mata Pelajaran




Mega Purnama, S.Pd